JAMBI!
"Jambi dimana, kak?"
"Beli atlas dulu, sana!"
Jambi adalah kota. Bukan sekedar kota, tapi tempat kelahiran gue. Gue heran dengan orang-orang yang mengatakan bahwa Jambi nggak ada sesuatu yang ada di tempat lain (walau masing-masing daerah punya khas tertentu). Bahkan gue pernah bikin postingan yang berjudul "Jambi solusi alternatif buat yang nggak kesampaian ke Jakarta".
Memang, sih, Jambi masih termasuk dalam kategori "Kota berkembang". Tapi, gue bangga dengan Jambi walau masih dalam tahap berkembang, kenapa? karena semakin maju sebuah kota, maka semakin banyak masalah yang ditimbulkan.
Contohnya, meningkatnya jumlah pengendara mobil yang bisa menyebabkan kemacetan dan polusi. perluasan area dengan digusurnya hutan yang bikin panas dan gampang banjir. Banyaknya proyek-proyek yang membangun sebuah gedung. Kalau bangkrut, gedung akan menjadi sia-sia.
Gue bangga, karena Jambi istilahnnya kota yang adem-ayem untuk di tempatin. Angka kemacetan nggak tinggi (Buat yang tinggal di Jambi, pasti tau dengan simpang mayang dan telanai kalau malam minggu). Tapi, macetnya hanya sebentar, bisa sabar untuk ditunggu.
Nih, gue kasih dulu sedikit tentang Jambi menurut abang wikipedia..
Jambi adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di pesisir timur di bagian tengah Pulau Sumatera. Jambi adalah satu dari tiga provinsi di Indonesia yang ibukotanya bernama sama dengan nama provinsinya, selain Bengkulu dan Gorontalo. Jambi merupakan tempat berasalnya Bangsa Melayu yaitu dari Kerajaan Malayu di Batang Hari Jambi. Bahasa Melayu Jambi sama seperti Melayu Palembang dan Melayu Bengkulu, yaitu berdialek "o". Sumber: WikipediaJadi, kalau kejambi itu nggak perlu canggung bagaimana tata bahasanya. Jika akhirannya "A", maka tinggal diubah "o". Contohnya, apa jadi apo.
"Trus, ada apa lagi disana? cuma itu?"
"Sabar, simak dulu sampai kelar.."



