Ceritanya, waktu itu gue lagi menikmati hidangan disebuah rumah makan. Di sebuah rumah makan yang nggak gede-gede amat tapi dihuni oleh mbak-mbak cantik, itulah yang bikin gue mau mengunjungi rumah makan itu. Makanannya juga enak banget, dan yang paling penting harganya yang murah. Letak rumah makannya juga strategis, tepat didepan sekolahan. Jadi, selain melihat mbak-mbak yang cantik, gue juga bisa melihat remaja-remaja yang cantik dan berkeringat dengan seksinya.
"Lo mau cerita apaan, sih?"
Gue nggak lagi nyeritain tentang rumah makan. Tapi disitulah letak latar ceritanya, apa boleh buat gue ceritain dulu tempat latarnya, biar ceritanya bisa hidup.
"Terserah lo dah!"
Oke, di rumah makan itu gue nemuin cerita yang menarik untuk diceritakan. Ada seorang tunawisma yang minta-minta di rumah makan itu. Lalu, salah seorang mbak-mbak kasir mengatakan kalau disini nggak nerima sumbangan dalam bentuk apapun atau sejenisnya, apalagi minta-minta. Tunawisma itupun protes kenapa kata-kata itu nggak dipajang aja sekalian didepan pintu rumah makan itu. Mbak yang cantik itupun menjawab dengan nada kesal dan mengusir tunawisma tersebut.
Nggak sampai disitu, mbak kasir itupun menceritakan ke teman-temannya yang memang kepo soal kejadian barusan di rumah makan tersebut. Dalam hati gue, ini mbak cantik-cantik tapi ngeselin. Paling ngeselinnya ada satu kutipan kata yang paling gue inget dari mulut mbak itu..katanya "Kenapa musti dikasih, walau dikasih pun tunawisma itu nggak ngasih dampak untung buat rumah makan ini.." Memang, sih, ada peraturan tentang pemberian uang kepada tunawisma.
